Kisah Perjuangan Loper Koran, Tetap Semangat di Tengah Pergeseran Teknologi Hanya untuk Bertahan Hidup
SURABAYA, liputankhususnews.online – Era disrupsi di mana masyarakat mengubah aktivitas dari Dunia Nyata ke Dunia Maya, itu berdampak sangat besar kepada Industri Media Cetak. Perkembangan akan Teknologi Informasi menggeser kebiasaan masyarakat untuk mencari berita di Media Cetak ke Media Online.
Akibat pergeseran Era ini berImbasnya bagi para Loper atau penjaja koran. Seperti halnya dengan Sumiati (35), salah satu penjaja koran di sekitar Jalan Ngagel Jaya Surabaya, , merasakan hal tersebut.
Sumiati telah menggeluti profesi sebagai penjaja koran selama 15 tahun, sejak masih gadis hingga memiliki anak 3. Dia mengakui dagangannya semakin tersisih seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
“Dulu Sumiati berjualan koran laku keras. Sekarang ambruk,” ujar beliau pada kami.
Kendati hidup semakin prihatin, tetapi Sumiati tidak menyerah pada keadaan. Setiap pagi usai melaksanakan rutin Rumah Tangga dan Salat Subuh, beliau berangkat ke Lokasi pengepul untuk mengambil Koran yang akan dijualnya.
Dia tak segan untuk berkeliling dari pagi hingga sore untuk menjajakan koran. Namun, apa daya. Peminat koran tidak sebanyak dulu. Walaupun berkeliling seharian, Sumiati hanya mampu mendapatkan penghasilan sebesar 25.000,- Dua Puluh Lima Ribu Rupiah..
“Pelanggannya adalah para pengemudi simpati saat lampu merah menyala,” kata Sumiati pada kami.
Sumiati yang memiliki Tiga anak ini mengaku dalam sehari hanya mampu memperoleh keuntungan rata-rata Rp 25.000. Koran yang tidak laku, dia kumpulkan untuk dijual kiloan. Selama ini, peminat koran tambah menurun mas. Meski begitu saya ini tetap berkeliling menjajakan Koran untuk bertahan hidup.
“Penjualan tak banyak. Orang pada beralih ke Media Online dengan hanya mengakses lewat Hp bisa melihat informasi dengan cepat,” tuturSumiati sambil berkaca kaca matanya, menahan pilunya perjuangan hidup di Kota Besar ke Dua. Namun, Sumiati tetap bersyukur. Seberapa banyak hasil yang didapat adalah rezeki yang tidak ternilai dari Allah SWA.
Kunci utama dalam kehidupan adalah ikhlas dan bersyukur. Seperti hal Ibu Sumiati ini. Sesusah apapun hidup, jika kita jalani dengan penuh ikhlas dan bersyukur, pasti ada rezeki yang diberikan oleh Allah. (SATRIYA)





