Peringatan Malam Refleksi Sewindu Peristiwa Bom Gereja 13 Mei
SURABAYA, liputankhususnews.online – Peringatan sewindu tragedi bom 13 Mei Surabaya berlangsung khidmat dan penuh suasana damai di Gedung Budaya Cak Durasim, Jalan Genteng Kali No 85 Surabaya, pada Jumat (22/05/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, tokoh lintas agama, komunitas sosial, pemuda, hingga para korban dan keluarga korban bom gereja 13 Mei 2018. Acara ini menjadi ruang bersama untuk mengenang tragedi kemanusiaan yang pernah mengguncang Kota Surabaya sekaligus mempererat persaudaraan antarumat beragama di Kota Pahlawan.
Sejak acara dimulai, nuansa rukun dan penuh kehangatan tampak terasa di antara para peserta.Tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha,Tao,Penghayat kepercayaan dan Konghucu duduk berdampingan bersama masyarakat umum tanpa sekat perbedaan. Doa lintas agama dipanjatkan secara bergantian sebagai simbol persatuan dan harapan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di Indonesia, khususnya di Surabaya. Para peserta juga menyalakan lilin dan mengheningkan cipta untuk mengenang para korban tragedi bom.

Ketua panitia, Adi Sujatmika mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekedar seremoni belaka, melainkan menjaga nilai-nilai toleransi dan kemanusian.
“bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk menjaga nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan di tengah masyarakat. Momentum refleksi bersama untuk mengenang para korban sekaligus memperkuat semangat persaudaraan antarumat beragama di Kota Pahlawan,” ujarnya dalam sambutan pembukaan acara.
Ia menegaskan bahwa Surabaya telah menunjukkan kekuatan solidaritas masyarakat dalam menghadapi luka akibat aksi terorisme.
Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Haris Teguh Nuning yang juga aktivis keberagaman dan toleransi mengatakan
“Semangat kebersamaan masyarakat Surabaya hingga kini tetap terjaga dengan baik. Menurutnya, kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam peringatan sewindu ini menjadi bukti nyata bahwa warga Surabaya menolak perpecahan dan tetap menjaga persatuan.Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan kuatnya solidaritas warga dalam menjaga kedamaian Kota Surabaya pasca tragedi bom,” tegas Haris.

Peringatan sewindu tragedi 13 Mei Surabaya tersebut ditutup dengan pertunjukan budaya dan pembacaan pesan damai oleh perwakilan lintas agama dan generasi muda. Suasana haru bercampur damai begitu terasa hingga akhir acara. Melalui kegiatan ini, masyarakat Surabaya kembali menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan secara rukun, serta bersama-sama menjaga kota tetap aman, damai, dan penuh toleransi. (N3551)





